Rancaekek, Bandung – Centralberitanews1.com
Kesadaran akan urgensi menghadapi perubahan iklim terus menguat di berbagai lapisan masyarakat. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui Lokakarya Adaptasi Perubahan Iklim yang digelar di Rancaekek, Kabupaten Bandung, pada 7 Januari 2026, dengan melibatkan unsur komunitas, akademisi, praktisi lingkungan, serta pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga internasional.
Lokakarya ini menjadi ruang strategis untuk meningkatkan pemahaman bersama mengenai dampak perubahan iklim yang semakin nyata, sekaligus merumuskan langkah-langkah adaptasi yang aplikatif dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut menegaskan bahwa adaptasi iklim bukan sekadar wacana global, melainkan kebutuhan mendesak yang harus dijawab melalui aksi nyata di tingkat komunitas.
Salah satu sesi penting dalam rangkaian kegiatan ini adalah Lokakarya Aksi Iklim Berbasis Komunitas Lokal Tingkat ASEAN, yang dipusatkan di Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek. Forum ini bertujuan untuk menginventarisasi berbagai praktik baik aksi iklim berbasis komunitas yang berkembang di kawasan ASEAN, mengidentifikasi tantangan di lapangan, serta membuka peluang kolaborasi lintas wilayah dan negara.
Para peserta secara aktif berdiskusi mengenai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat, mulai dari perubahan pola cuaca, ancaman banjir, degradasi kualitas lingkungan, hingga dampaknya terhadap ketahanan pangan dan ekonomi lokal. Dari diskusi tersebut mengemuka kesimpulan penting bahwa komunitas lokal memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam adaptasi perubahan iklim, selama didukung oleh pengetahuan, jejaring, dan kebijakan yang berpihak.
Tak hanya itu, lokakarya ini juga terhubung dengan agenda yang lebih luas, yakni Lokakarya Internasional tentang Bangunan Berkelanjutan, Kota, dan Komunitas 2026, yang turut dilaksanakan di kawasan Bandung–Rancaekek. Agenda internasional tersebut membahas pendekatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui penerapan konsep bangunan berkelanjutan, pengembangan kota hijau, serta penguatan komunitas tangguh iklim.
Dalam lokakarya internasional ini, peserta tidak hanya mengikuti paparan konseptual, tetapi juga melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah titik lokasi, guna melihat secara langsung praktik-praktik adaptasi dan mitigasi iklim yang telah diterapkan di masyarakat. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjembatani teori dan praktik, sekaligus memperkaya perspektif peserta dari berbagai latar belakang.
Sebagai konteks yang saling menguatkan, lokakarya ini sejalan dengan semangat pembangunan hijau yang sebelumnya juga digaungkan dalam kegiatan “Menuju Kota Hijau dan Rendah Karbon di Jawa Barat” yang digelar di Bandung pada Mei 2025 lalu. Fokus pada infrastruktur hijau, transisi energi terbarukan, serta transportasi rendah emisi menjadi benang merah yang terus diangkat dalam berbagai forum tersebut.
Melalui rangkaian lokakarya ini, Rancaekek tidak hanya menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga simbol penting dari tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa solusi perubahan iklim harus dimulai dari akar rumput. Kolaborasi antara komunitas, pemerintah, akademisi, dan jejaring internasional diharapkan mampu melahirkan strategi adaptasi yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan.
Lokakarya Adaptasi Perubahan Iklim di Rancaekek ini menegaskan satu pesan kuat: menghadapi krisis iklim membutuhkan kerja bersama, komitmen jangka panjang, serta keberanian untuk bertransformasi demi masa depan yang lebih hijau dan berkeadilan.
Pewarta: ALEX
