Kendari, Centralberitanews1.com —
Gerakan Persatuan Mahasiswa Indonesia (GPMI) menaruh kecurigaan terhadap Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra), setelah pihak kepolisian tersebut tidak menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar oleh DPRD Kota Kendari.
Koordinator GPMI, Adrianto, menilai ketidakhadiran Polda Sultra dalam RDP tersebut menimbulkan tanda tanya besar, terlebih setelah munculnya pernyataan resmi bahwa korban di kasus ini meninggal dunia karena bunuh diri, padahal hasil otopsi belum diumumkan.
“Kenapa Polda Sultra tidak menghadiri RDP, ini ada apa? Lalu tiba-tiba mengumumkan ke publik bahwa korban meninggal karena bunuh diri sementara hasil otopsi belum keluar. Kami menaruh curiga dan menduga Polda Sultra bermain mata dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Sultra,” ujar Adrianto kepada awak media.
Lebih lanjut, GPMI juga menemukan sejumlah kejanggalan dalam kasus kematian korban tersebut.
“Kalau kita belajar dari berbagai kasus seperti kasus Sambo dan rekayasa kasus lainnya, sangat mungkin terjadi permainan oleh aparat. Kok hasil otopsi belum keluar, tapi sudah dinyatakan bunuh diri? Korban ditemukan tergantung memakai celana panjang yang sebelumnya tidak ada di dalam tahanan. Celana itu diberikan dengan alasan korban mau salat, padahal sebelumnya diketahui ia tidak pernah salat. Posisi tergantungnya pun sulit dilakukan sendiri. Maka patut kami curigai adanya kejanggalan dalam kasus ini,” jelas Adrianto.
GPMI mendesak agar kasus tersebut diawasi secara ketat dan ditangani secara transparan agar tidak terjadi rekayasa ataupun penyimpangan dalam proses penyelidikan.
“Kami berharap kasus ini mendapat perhatian serius dari semua pihak dan pengawalan penuh agar keadilan benar-benar ditegakkan,” pungkasnya.
Reporter: ALF
Editor: Redaksi Centralberitanews1.com
